Bahtera Hijau Lestari

News & Article

  • Kemiri Minyak Bahan Bakar Teririt

    TEMPO.CO, SUKABUMI -- Kemiri Minyak bisa menjadi alternatif bahan bakar nabati (BBN) bio-diesel yang ekonomis. Jika digunakan untuk menggerakkan diesel, bahan bakar Kemiri terbukti lebih efisien dibanding solar atau bahan bakar nabati yang lain semisal dari Jarak Pagar.

     

    Dibyo Pranowo, Peneliti Bioenergi Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Kementerian Pertanian, di Sukabumi hari ini menjelaskan, satu liter bahan bakar Kemiri Minyak bisa untuk menghidupkan generator selama 240 menit. Adapun solar dalam jumlah sama hanya selama 62 menit, dan Jarak Pagar 145 menit.

     

    More Detail

  • Kemiri Sunan Alternatif Pengganti BBM

    MINGGU, 29 JANUARI 2012 07:03 WIB

     

    SUKABUMI – Pemerintah terus berupaya mencari solusi pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) selain karena cadangannya yang terus menipis, beban subsidi yang membebani anggaran keuangan negara dan untuk ketahanan energi. Selain mengganti BBM dengan Bahan Bakar Gas (BBG), Pemerintah mulai mencari alternatif lain dengan mengalihkan pemakaian BBM dengan Bahan Bakar Nabati (BBN). Sederet nama muncul sebagai alternatif antara lain, jarak pagar (Jatropha curcas L., Euphorbiaceae), nyamplung (Calophyllum inophyllum) dan kemiri sunan (Aleurites Trisperma).

     

    More Detail

  • Pembangunan Industri Perkebunan Kemiri Reutealis Trisperma

    Setelah melakukan serangkaian penelitian bekerja sama dengan Balittri (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri) terhadap potensi tanaman Kemiri Reutealis Trisperma sebagai bahan baku biodiesel, PT Bahtera Hijau Lestari Indonesia (BHLI) mulai mengembangkan tanaman ini untuk skala industri perkebunan dengan pola kemitraan dengan masyarakat sekitar.

     

    Pola yang akan diterapkan dalam perencanaan pembangunan kebun adalah pola kemitraan yang merupakan pengembangan Perkebunan Inti Rakyat (Investor-Koperasi), yaitu menghilangkan pembatas kelembagaan antara inti dan plasma. Masyarakat membentuk koperasi dan bersama perusahaan mendirikan satu unit usaha perkebunan. Nilai saham tersebut merupakan nilai lahan dari anggota koperasi. Secara bertahap, kepemilikan saham koperasi akan meningkat dengan perkembangan usaha perkebunan. Besarnya porsi kepemilikan saham dalam usaha bersama masing-masing adalah masyarakat 80% dan perusahaan 20%.

     

     

    More Detail

  • Produktivitas Biodiesel Kemiri Reutealis Trisperma

    Indonesia tidak dapat selamanya tergantung pada minyak bumi. Bahan Bakar Nabati (BBN) tampaknya merupakan jawaban masalah konsumsi energi masa depan, karena penggunaan BBN lebih ramah lingkungan dan diperkirakan akan semakin ekonomis dengan semakin langkanya Bahan Bakar Minyak (BBM). Pada gilirannya BBN akan memiliki prospek yang semakin baik untuk dikembangkan apalagi BBN merupakan sumber energi terbarukan yang didukung pengembangannya oleh pemerintah melalui regulasi dan kebijakan, pembiayaan serta penelitian dan pengembangan (Sambodo, 2008).

     

    Biodiesel sebagai salah satu BBN yang dapat mensubstitusi solar, akan dapat berkembang dengan baik jika dan hanya jika produksi biodiesel dapat secara ekonomis berdaya saing dengan solar. Salah satu faktor penting yang menentukan daya saing tersebut adalah produktivitas lahan untuk menghasilkan biodiesel secara kontinu. Disamping itu dengan situasi harga BBM yang berkecenderungan meningkat akan menjadikan BBN semakin berdaya saing. Hal ini ditunjang oleh kelimpahan sumberdaya yang tersedia terutama lahan, iklim, tenaga kerja dan teknologi.

     

    More Detail

  • Sumber Energi Alternatif Terbarukan

    Pengembangan bioenergi atau bahan bakar nabati sebagai sumber energi alternatif sangat strategis untuk mengatasi permasalahan yang ada. Langkah nyata pemerintah Indonesia dalam pengembangan bahan bakar nabati adalah dengan diterbitkannya Instruksi Presiden No.1 Tahun 2006 tertanggal 25 Januari 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain. Secara umum biofuel dapat dikategorikan menjadi empat jenis bahan bakar, yaitu biodiesel, bioetanol, bio oil, dan Pure Plant Oil (PPO).

     

    Indonesia sebagai negara agraris mempunyai potensi bahan baku yang sangat besar untuk menghasilkan biodiesel, bioetanol serta PPO. Beberapa jenis minyak nabati seperti minyak kelapa sawit, kelapa, dan jarak pagar serta minyak nabati lainnya bisa dijadikan bahan baku biodiesel pengganti solar. Sedangkan bahan-bahan yang mengandung karbohidrat seperti tebu, jagung, singkong, ubi serta sagu atau bahan yang mengandung gula dan pati lainnya bisa dijadikan bahan baku bioetanol. Bio oil dapat memanfaatkan biomassa yang jumlahnya melimpah di Indonesia seperti limbah pertanian.

     

    More Detail

  • Minyak Kemiri Reutealis Trisperma

    Produk turunan minyak Kemiri Reutealis Trisperma banyak digunakan sebagai bahan baku berbagai industri cat, pernis, sabun, linoleum, minyak kain, resin, kulit sintetis, pelumas, kampas, dan campuran pada pembersih/pengkilap, pelindung kontainer makanan dan obat-obatan, melapisi/melindungi permukaan kawat dan logam lain seperti pada radio, radar, telepon, dan perlengkapan telegraf.

     

    More Detail