PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KEMIRI SUNAN DENGAN SISTEM PERKEBUNAN BESAR

Sejak tahun 2006, Kami, PT Bahtera Hijau Lestari Indonesia (BHLI), telah melakukan penelitian yang mengkhususkan diri untuk budi daya tanaman Kemiri Sunan (Reutealis Trisperma). Untuk merealisasikan program pembangunan perkebunan kemiri sunan ini langkah-langkah yang telah kami lakukan adalah sebagai berikut :

  • Pada tahun 2008, BHLI telah mengadakan penanaman Pohon Kemiri Sunan di Areal Lahan Kritis Pemerintah (Program Penghijauan/Reboisasi dengan Direktorat Jendral PLA Kementerian Pertanian) sejumlah 60.000 Pohon tertanam.
  • Pada awal tahun 2009, BHLI telah mengadakan perjanjian kerjasama dengan institusi pemerintah (BALITTRI – BALAI PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN ANEKA TANAMAN INDUSTRI) untuk Pengelolaan Blok Penghasil Tinggi (BPT), Pohon Induk, Pelepasan Varietas Dan Penangkaran Benih Kemiri Sunan.
  • BHLI, juga telah mengadakan kerjasama dengan pihak Perhutani dan Gapoktan dalam rangka penanaman dan penampungan hasil Kemiri Sunan di daerah Majalengka.
  • BHLI telah mempunyai pembibitan dan sampai dengan akhir tahun 2009, BHL akan mempunyai bibit siap tanam sejumlah 500.000 bibit.
  • BHLI telah mengadakan kerjasama untuk tujuan konservasi lahan dan air dengan beberapa pihak terkait (Pemda, Departemen, LSM dan swasta) untuk menyalurkan dan menanam sejumlah +220.000 bibit ke beberapa daerah seperti:
  • •          Kuningan → 10.000 bibit •          Timor → 4.000 bibit
    •          Majalengka → 10.000 bibit •          Ngawi → 15.000 bibit
    •          Lombok → 14.500 bibit •          Bekasi → 30.000 bibit
    •          Nusa Penida, Bali → 15.000 bibit •          Jakarta  → 3.500 bibit
    •          Jatigede → 100.000 bibit •          Kapolwil → 3.000 bibit
  • Tahun 2010, BHLI melakukan pembangunan kebun induk untuk Penangkaran Benih Kemiri Sunan di daerah Subang diatas lahan seluas 6 Ha dimana nantinya akan mampu menghasilkan bibit untuk areal seluas +100.000 Ha per Tahun.

Setelah melakukan serangkaian penelitian bekerja sama dengan Balittri (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri) terhadap potensi tanaman Kemiri Sunan (reutealis trisperma) sebagai bahan baku biodiesel, PT Bahtera Hijau Lestari Indonesia (BHLI) mulai mengembangkan tananam ini untuk skala industri perkebunan dengan pola kemitraan dengan masyarakat sekitar.

Pola yang diterapkan dalam pembangunan kebun adalah pola kemitraan yang merupakan pengembangan Perkebunan Inti Rakyat (Investor-Koperasi), yaitu menghilangkan pembatas kelembagaan antara inti dan plasma. Masyarakat membentuk koperasi dan bersama perusahaan mendirikan satu unit usaha perkebunan. Nilai saham tersebut merupakan nilai lahan dari anggota koperasi. Secara bertahap, kepemilikan saham koperasi akan meningkat dengan perkembangan usaha perkebunan.

Kemitraan merupakan kerjasama usaha antara usaha kecil/pekebun dengan usaha menengah/besar yang disertai dengan pembinaan dan pengembangan oleh usaha menengah/besar dengan memperhatikan prinsip  saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan. Pola kemitraan tersebut merupakan kemitraan revitalisasi perkebunan sesuai dengan semangat PP. No 26/2007 tentang Perluasan Lahan Perkebunan.

Pelaksanaan Pembangunan Perkebunan Kemiri Minyak

Untuk saat ini, pembangunan perkebunan Kemiri Reutealis Trisperma dengan pola kemitraan ini dilaksanakan di Kabupaten Ngada, Povinsi Nusa Tengara Timur. Kabupaten Ngada terletak diantara 80 20’ 24.28” – 80 57’ 28.39” Lintang Selatan dan 1200 48’ 29.26” – 1210 11’ 8.57” Bujur Timur. Bagian Utara berbatasan dengan laut Flores, bagian selatan berbatasan dengan laut Sawu, bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Nagekeo dan bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Manggarai Timur.

ab

Berdasarkan Surat Ijin Lokasi dari Bupati Ngada dengan nomor 570/BPM/01/03/2011, PT BHLI melalui anak perusahaannya (PT Bumiampo Investama Sejahtera) memulai aktivitas yang berhubungan dengan pembangunan perkebunan Kemiri Reutealis Trisperma di Kabupaten Ngada yang dimulai dari bulan April 2011. Kantor Perwakilan Bajawa, Kabupaten Ngada sudah mulai beroperasi sekitar bulan Mei 2011 yang berfungsi sebagai kantor pendukung dan pusat koordinasi untuk semua kegiatan pembangunan perkebunan di daerah tersebut.

c

d

Sebelum melakukan kegiatan fisik pembangunan perkebunan, pihak perusahaan melakukan tahap sosialisasi kepada pemerintah dan masyarakat di beberapa lokasi di Kecamatan Wolomeze yang meliputi Desa Mainai, Turalo’a, Denatana Timur, dan Nginamanu mengenai pembangunan perkebunan dengan pola kemitraan. Sosialisasi ini dimaksudkan memberikan pengertian dan pemahaman masyarakat mengenai manfaat pembangungan perkebunan Kemiri Sunan dengan pola kemitraan untuk peningkatan tingkat kehidupan sosial ekonomi. Selain itu, pihak perusahaan juga mengharapkan dukungan penuh dari pemerintah untuk membantu mengsukseskan rencana pembangunan perkebunan ini.

e

f

 

 

 

 

 

g

h

 

 

 

 

 

Setelah masyarakat memahami dan menerima perusahaan untuk  membangun perkebunan dengan pola kemitraan yang kita tawarkan, selanjutnya kita melakukan kegiatan survey, pengukuran dan blocking areal atas tanah yang sudah diserahkan ke perusahaan untuk dikelola bersama.

ij

Pada bulan Oktober 2011 dilakukan pengurusan perizinan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) dan selesai pada tahun 2013 dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Bupati NOMOR 203/KEP/PLH/2013. Dengan selesainya pengurusan perizinan tahap awal tersebut maka BHLI sudah dapat memulai kegiatan fisik operasional dilapangan secara luas dan terpadu dimulai dari land clearing penanaman dan pemeliharaan tanaman Kemiri Sunan (Reutealis Trisperma) di Kabupaten Ngada sesuai dengan standart agronomy budidaya kemiri sunan sebagai langkah awal untuk memulai industri perkebunan Kemiri Reutealis Trisperma.

Selama proses pengurusan perizinan AMDAL, BHLI melakukan pelatihan dan pembinaan tenaga kerja operasional baik staf dan tenaga administrasi dikantor perwakilan dan tenaga kerja di lapangan yang meliputi staf agronomy dan mandor lapangan. Dengan berpegang teguh pada prinsip pemberdayaan masyarakat setempat maka seluruh tenaga kerja yang dilibatkan dalam proses pembangunan perkebunan ini adalah putra-putra asli daerah Ngada yang telah diberi pelatihan dan pembinaan langsung dilokasi pembangunan perkebunan. Setelah mereka cukup diberikan pembekalan dan persiapan maka proses pelaksanaan kegiatan fisik dilapangan telah siap untuk dilaksanakan.

Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Fisik Pembangunan Perkebunan Kemiri Sunan di Ngada, NTT.

  1. Land Clearing

Perencanaan kegiatan land clearing dilakukan berdasarkan analisa kesesuaian lahan hasil survey semi detil secara menyeluruh diareal yang akan dikerjakan. Hal ini merupakan langkah penting dan merupakan dasar untuk menjamin keberhasilan kegiatan fisik pembangunan kebun kemiri sunan selanjutnya.

k

n

o

q

r

2. Penanaman

Kegiatan penanaman dimulai dari kegiatan pancang tanam, pembuatan lubang tanam, pemupukan dasar dan penanaman bibit dilapangan. Saat ini BHLI telah melakukan penanaman seluas 600 Ha.

s

t

u v

 

3. Perawatan Tanaman Belum Menghasilkan

Perawatan tanaman belum menghasilkan meliputi pengendalian gulma, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman serta pemangkasan. Perawatan tanaman sangat penting untuk menciptakan kondisi yang terbaik bagi tanaman agar dapat tumbuh secara optimal. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan perawatan tanaman akan sangat menentukan produktivitas tanaman pada saat memasuki masa panen.

Tanaman umur 3 bulan setelah tanam

Tanaman umur 3 bulan setelah tanam

Tanaman umur 3 bulan diareal datar

Tanaman umur 3 bulan diareal datar

Tanaman umur 1 tahun

Tanaman umur 1 tahun

Tanaman umur 1 tahun 4 bulan

Tanaman umur 1 tahun 4 bulan

Tanaman umur 2 tahun 8 bulan

Tanaman umur 2 tahun 8 bulan

Tanaman umur 2,5 tahun mulai memasuki tahap generatif

Tanaman umur 2,5 tahun mulai memasuki tahap generatif

 

4. Hamparan Areal perkebunan Kemiri Sunan di Ngada, Flores, NTT

1 2 3 4 5 6

 

5. Asal munculnya ladang biodiesel di Ngada, Flores, NTT.

Tanaman kemiri sunan jika dibudidayakan dengan standart agronomi yang sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan oleh tanaman tersebut dan kondisi agroklimat yang cocok maka pada usia 2,5 tahun setelah tanam akan mulai memasuki masa generative untuk pertama kalinya

3c 4d 5e 6f

Ngada, Flores NTT, Agustus 2015

 

Penulis,

PT Bahtera Hijau Lestari Indonesia